Bertahan hidup, itu hal yang pasti dilakukan semua orang.
Tak terkecuali anak kos.
Percaya atau tidak, saya sudah mendengar banyak pengalaman anak-anak kos dalam bertahan hidup.
Semua cara yang mereka gunakan rata-rata unik. Namun ada pula cara nekat yang mereka tempuh.
Sekedar sharing tentang cerita-cerita yang saya ketahui, mulai dari cara yang paling biasa sampai cara yang – menurut saya – nekat!
Anak kos biasanya adalah mahasiswa, namun banyak juga pekerja dan anak SMA, SMP-pun banyak yang kos. Anak SD?! Saya sih belum pernah tahu, setega itukah orang tua mereka ngekos-in anak SDnya? Hehe … TK?! Jelas tidak ada.
Disini saya hanya akan menuliskan sedikit tentang kehidupan kos mahasiswa.
Cara-cara anak kos tingkat mahasiswa berbeda dengan tingkat lainnya, beda di keberanian, kecerdikan, dan kenekatan.
Mahasiswa yang kos, biasanya masih mengandalkan uang dari orang tua. Ketika baru “gajian” alias baru dapat sokongan dana dari orang tua, mereka akan makan kenyang, enak dan mereka jarang memikirkan bagaimana nanti jika uang mereka menipis. Rata-rata penipisan uang terjadi ketika pertengahan bulan antara tanggal 15-20an. Namun, jika itu terjadi makanan mereka akan berubah secara instan.
Biasanya hal yang pertama kali mereka lakukan ketika menyadari penipisan dana mereka adalah beralih tempat makan, mereka akan memilih warung yang MURAH dan BERPORSI JUMBO. Yah, selisih biaya makan dibandingkan dengan awal bulan sekitar 50% atau separuh harga. Sebagai contoh pada awal bulan mereka membeli makanan per-porsi minimal seharga 9-10 ribu rupiah, pertengahan bulan mereka akan memilih makanan dengan harga 4-5 ribu rupiah per-porsi, biasanya hanya berisi nasi putih, tahu/tempe dan atau sayur lodeh 1 jenis. Haha …
Pernah ke warung yang nasi putihnya ambil sendiri? Itu adalah surga akhir bulan bagi anak kos, hehe.. mereka bisa makan kenyang – err, nasi doang yang banyak dengan lauk cuman sejenis, sayur lodeh-pun cuman kuahnya yang diambil– dengan harga murah. hehehe
Selanjutnya, semakin mendekati akhir bulan duit akan semakin tipis, disinilah kerjasama yang indah diwujudkan sesama anak kos, mereka akan patungan dana dan memasak bersama lalu dibagi rata antar anggota kos – Indahnya – sehingga bukan saja kenyang namun juga merasa lebih tegar karena rasa senasib sepenanggungan antar anggota kos, keren gak tuh? Hehe…
Coba pemimpin Indonesia bisa begini dengan rakyatnya, pasti Indonesia bakal jadi rumah yang indah, harmonis dan kuat! #kritikcolongan
Ketika sudah tidak ada lagi dana untuk membeli makan, maka langkah nekat akan mereka lakukan.
Pergi ke acara resepsi pernikahan!
Dengan modal pakaian rapih bersepatu dan amplop isi Rp. 1000 atau sama sekali KOSONG, mereka akan masuk ke resepsi pernikahan dan makan! Hehe.. Ketahuan?! Saya rasa tidak, rata-rata mereka makan dengan aman dan santai.
Kok bisa?!
Alasannya karena di resepsi pernikahan ada banyak tamu dari dua keluarga yang berbeda, jadi ada banyak wajah asing dari tamu mempelai laki-laki yang tidak diketahui mempelai wanita dan sebaliknya.
Aman!!
Lalu bagaimana jika tidak sedang musim kawin?, eh, maksud saya tidak setiap bulan dalam satu tahun ada orang menikah kan?
Mereka akan mengurangi jatah makan mereka, ini cara nekat selanjutnya asal bisa bertahan hidup di kerasnya kehidupan kos-kosan.
Disinilah perubahan makanan terjadi secara instan, literaly, instan! Hehe..
Mereka hanya akan makan mi instan, dobel mi instan kalau perlu biar mantap!
Dan mereka akan menyantapnya sekali dalam sehari, mereka akan memilih waktu yang tepat untuk menyantap mi tersebut supaya rasa lapar dapat dihindari, at least tidak menjadi-jadi.
Langkah ini disebut S.M.S
Sehari Makan Sekali.
Masih banyak yang belum saya ketahui tentang seluk beluk pertahanan hidup anak kos, saya yakin masih banyak teknik jitu yang mereka biasa pakai. Tapi semoga tulisan diatas bisa mewakili.
0 komentar:
Posting Komentar